Kado Milad Ke-114, Muhammadiyah Luncurkan Hutan Wakaf Berkemajuan 114 Hektare di Sumatra dan Jawa

GUNUNGKIDUL* — Muhammadiyah meluncurkan gerakan Hutan Wakaf Berkemajuan dengan target rehabilitasi hutan dan lahan seluas 114 hektare di delapan lokasi di Sumatra dan Jawa, Minggu (18/10/2026). Menjadi kado Milad ke-114 Muhammadiyah, program ini menjangkau Lampung, Sumatera Utara, Bengkulu, Banten, Banyumas, dan Gunungkidul.

Peluncuran berlangsung di Hutan Wakaf Muhammadiyah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang menjadi percontohan pengembangan program. Ketua PP Muhammadiyah Buya Anwar Abbas menekankan bahwa pemulihan lahan harus disertai tanggung jawab merawat tanaman agar manfaatnya berkelanjutan.

“Hutan Wakaf Berkemajuan ini menjadi bagian dari kado Milad ke-114 Muhammadiyah. Kita akan menanam di lahan seluas 114 hektare yang tersebar di delapan titik di Indonesia,” kata Buya Anwar.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program harus terlihat dari pohon yang hidup dan tumbuh. Penanaman perlu didukung pengetahuan, pengairan yang memadai, serta kesiapan pengelola untuk melakukan pemeliharaan.

“Pohon-pohon ini harus dipastikan hidup. Jangan hanya ditanam, kemudian tidak dirawat. Kita harus menggunakan ilmu, memilih bibit yang tepat, menanam dengan benar, menyediakan pengairan, dan merawatnya dengan baik,” ujarnya.

Menurut Buya Anwar, pengembangan hutan wakaf di Gunungkidul merupakan kontribusi Muhammadiyah dalam menjawab persoalan rehabilitasi lahan. Kondisi wilayah yang berkapur dan kerap menghadapi kekeringan membutuhkan pemilihan tanaman yang sesuai serta pengelolaan air yang baik.

Kawasan Hutan Wakaf Muhammadiyah Gunungkidul seluas dua hektare telah ditanami 712 pohon dengan beragam jenis tanaman. Pengelola juga telah membangun saung dan sistem irigasi otomatis serta mengembangkan kawasan sebagai hutan pendidikan atau edu forest.

Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah Azrul Tanjung mengatakan, pengalaman pengelolaan di Gunungkidul menjadi pembelajaran untuk memperluas Hutan Wakaf Berkemajuan di wilayah lain.

“Gunungkidul kita jadikan percontohan Hutan Wakaf Berkemajuan di Indonesia. Pengembangannya akan menjangkau delapan titik, termasuk Banyumas, Lampung, Bengkulu, Banten, dan Sumatera Utara,” kata Azrul.

Delapan lokasi program terdiri atas masing-masing dua titik di Lampung dan Sumatera Utara, serta masing-masing satu titik di Bengkulu, Banten, Banyumas di Jawa Tengah, dan Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Azrul menyampaikan bahwa MLH telah menjalankan berbagai kegiatan bersama PDM Gunungkidul. Kerja sama tersebut menjadi bekal untuk memperkuat pengelolaan kawasan sekaligus membangun keterlibatan masyarakat.

Ia mendorong umat berpartisipasi dalam seluruh proses pengembangan hutan wakaf, mulai dari penyediaan bibit dan penanaman hingga pemeliharaan tanaman.

“Kita mendorong umat ikut menanam sekaligus merawat pohon. Partisipasi itu perlu berlanjut setelah bibit ditanam agar pohonnya tumbuh dan memberikan manfaat,” ujarnya.

Program rehabilitasi 114 hektare mendapat dukungan pendanaan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), dalam kerangka Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

Hutan Wakaf Berkemajuan menjadi payung bagi dua skema pengembangan. Pertama, pengembangan hutan pada lahan wakaf Muhammadiyah dengan dukungan pendanaan pemerintah atau donor, seperti Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Kedua, pengembangan hutan pada lahan milik pemerintah atau masyarakat melalui pendampingan dan fasilitasi MLH PP Muhammadiyah bersama MLH di tingkat wilayah maupun PDM. Pelaksanaannya mengikuti status kepemilikan dan dasar pemanfaatan masing-masing lahan, dengan dukungan pendanaan pemerintah atau donor.

Peluncuran turut disaksikan peserta Training of Trainers (ToT) Eco Kader & Eco Revive dari perwakilan delapan lokasi program. ToT berlangsung pada 16–18 Oktober 2026 dengan melibatkan 50 peserta dari perwakilan MLH Wilayah dan PDM sebagai persiapan pelaksanaan rehabilitasi.

Melalui pengembangan edu forest, kawasan hutan wakaf juga diarahkan menjadi ruang belajar bagi sekolah dan masyarakat. Kawasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengenal konservasi, mempelajari tanaman, serta memahami hubungan antara pemulihan lahan dan ketersediaan air.

Dari percontohan di Gunungkidul, MLH PP Muhammadiyah mendorong pengembangan kawasan serupa sesuai kondisi setiap wilayah. Target rehabilitasi 114 hektare disertai komitmen untuk memastikan pohon yang ditanam terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Exit mobile version