Jambi – 24 Januari 2025. Dalam rangka memperkuat peran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan hutan, Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Workshop Pemberdayaan Hutan dengan tema “Optimalisasi Pemanfaatan Hutan: Menjaga Keseimbangan Ekologi dan Kesejahteraan Masyarakat.” Kegiatan ini digelar di Hotel Luminor, Kota Jambi, dan dihadiri oleh 100 peserta yang terdiri dari perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kabupaten/kota se-Provinsi Jambi serta para pengurus organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah setempat. Acara dibuka oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Buya Anwar Abbas, yang menekankan pentingnya keterlibatan umat Islam dalam menjaga kelestarian hutan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual. “Alam ini adalah amanah dari Allah. Hutan bukan sekadar sumber kayu, tapi sumber kehidupan. Jika kita rusak, maka yang terdampak bukan hanya generasi hari ini, tapi generasi yang akan datang,” ujar Buya Anwar dalam sambutannya. Ia juga mendorong Muhammadiyah untuk semakin aktif dalam advokasi kebijakan dan edukasi lingkungan di tingkat akar rumput. Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua MLH PP Muhammadiyah, M. Azrul Tanjung, yang menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah untuk menguatkan literasi dan aksi nyata dalam pemanfaatan hutan berbasis keseimbangan antara ekologi dan ekonomi. “Kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam pengelolaan hutan. Mereka harus menjadi pelaku utama. Muhammadiyah siap hadir untuk mendampingi dan memperjuangkan keadilan ekologis, apalagi di daerah-daerah seperti Jambi yang punya kekayaan hutan luar biasa,” ujar Azrul. Sesi pertama workshop menghadirkan Harry Alexander, perwakilan dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), yang memaparkan tentang potensi pemanfaatan dana haji untuk pembiayaan proyek-proyek berkelanjutan, termasuk pelestarian hutan. Ia menjelaskan bahwa BPKH terbuka untuk mendukung inisiatif umat yang memiliki dampak sosial dan lingkungan, selama sesuai dengan prinsip syariah dan tata kelola yang baik. Selanjutnya, Ahmad Bestari dari Dinas Kehutanan Provinsi Jambi turut hadir untuk memberikan pemaparan. Ia memberikan gambaran kondisi hutan di Jambi saat ini. Ia menjelaskan tantangan yang dihadapi, mulai dari deforestasi, konflik lahan, hingga minimnya peran masyarakat dalam pengambilan kebijakan pengelolaan hutan. Ia juga mengapresiasi kehadiran Muhammadiyah yang turut mengambil peran dalam edukasi lingkungan dan mendorong kolaborasi lintas sektor. “Dengan luas tutupan hutan yang semakin berkurang, kita butuh mitra strategis yang bisa menjangkau hingga ke tingkat desa. Muhammadiyah punya jaringan kuat sampai ke ranting, ini sangat potensial,” ujarnya. Sesi ketiga diisi oleh Djihadul Mubarok, Sekretaris MLH PP Muhammadiyah, yang menyoroti pentingnya membangun gerakan lingkungan berbasis komunitas. Ia menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat sekitar hutan harus menjadi fokus utama dalam setiap program konservasi. “Kita tidak bisa bicara kelestarian tanpa memberdayakan masyarakatnya. Gerakan harus dimulai dari bawah, dari jamaah, dari komunitas. Dan Muhammadiyah siap memfasilitasi itu melalui struktur yang sudah ada di akar rumput,” terang Djihadul. Workshop ini tidak hanya menjadi ajang transfer pengetahuan, tapi juga membuka ruang kolaborasi antara pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, lembaga keuangan, hingga masyarakat sipil. Dengan keterlibatan PDM dan ortom Muhammadiyah se-Jambi, kegiatan ini diproyeksikan menjadi pemicu munculnya inisiatif-inisiatif lokal dalam menjaga hutan, seperti pembentukan kelompok pengelola hutan berbasis masyarakat, pelatihan agroforestri, serta penguatan dakwah lingkungan di daerah. Melalui kegiatan ini, MLH PP Muhammadiyah menegaskan posisinya sebagai motor penggerak dalam isu lingkungan berbasis nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. Harapannya, workshop ini menjadi langkah awal untuk membangun sinergi jangka panjang yang mampu menjaga keberlanjutan hutan di Jambi dan wilayah lainnya di Indonesia. “Langkah Muhammadiyah dalam mengawal konservasi hutan ataupun isu lingkungan hidup lebih luas tidak akan pernah terhenti”, tegas Djihadul Mubarok.