Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Wilayah Muhammadiyah menghadirkan beberapa tokoh narasumber dan berbagai penggiat lingkungan diwilayah Karesidenan Pati yaitu tepatnya di Desa Langse Kecamatan Telogowungu Kabupaten Pati, Sabtu 8 Juni 2024M /1 Dzulhijjah 1445 H dilokasi Lab bioreaktor kapal selam. Hadir dalam seminar off line adalah Rektor UMY Dr Gatot beserta tim, MLH PWM DR Sobri, hadir sebagai pakar pengelola sampah Rohmat Budi Sanjoyo, langsung dari Tegal , yg juga sebagai anggota MLH Kota tegal sekaligus Ketua Perbanusa JawaTengah, RS Aisyiyah Kudus, LPM Universitas Muhammadiyah Yogyakarta , RS Fastabiq Pati. Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana ( LLHPB ) PDA Jepara Kusnitah beserta 7 anggota hadir sebagai peserta seminar off line dari pukul 13.00 – 17.00 WIB bersama armada dari Lazismu Jepara. Dr. M.Sobri memberikan sambutan pertama sebagai pengantar diskusi mengenai kolaborasi yang akan dijabarkan oleh Dr. Gatot ( UMY) dan Dr. Imron (UNIMMA). “Eco Teologi atau iptek yang harus diutamakan” Ujar Sobri. Menurut Dr. Imron (Rektor UNIMMA Magelang) yang menghadiri kegiatan melalui online menjelaskan mengenai perbandingan keutamaan antara teologi dan iptek. "Sebetulnya lebih diutamakan Teologi yang selama ini menjadi kesadaran teologis lingkungan dan masyarakat yang menjadi masalah yang mengganggu estetika teologis juga adanya sampah moderenisasi", terang Imron. Kesadaran teologis kita sebagai masyarakat sebagai kholifah dibumi. Etika lingkungan (Eling) mampu memperbaiki dan mendukung lingkungan dengan memberi kontribusi masyarakat kepada keluarga rakyat miskin kebutuhan yang tidak bisa dibeli. Eling itu menjadi titik ukur manusia dan masyarakat komitmen terhadap interaksi alam yang dipandang sebagai nilai spiritual yang selalu dijaga dengan merawat alam. Cara pandang manusia akan mempengaruhi emosi pribadi dan lingkungan dengan berinteraksi langsung dengan alam. Nilai teologi harus terlihat dibagian kehidupan sehingga muncul pengaruh etika teologi. Alasan politik membatasi kebebasan pribadi dan ketidakpastian bukti ilmiah atau penyangkalan literasi hijau, yang direkomendasikan adalah Pendidikan (kesadaran publik) Regulasi dan kebijakan pemerintah yang mendukung nilai agama Adanya kemitraan pemerintah masyarakat sipil dan agama terkait etika dan perlu peningkatan kapasitas lokal dan lingkungan pengembangan riset hubungan nilai agama dan praktek lingkungan untk memperkuat etika dalam bermasyarakat. Kesadaran teologis dalam etika lingkungan peran penting menjadi landasan motivasi penyebaran pembentukan advokasi yang berkelanjutan. Tugas MLH adalah mengawal dan mendampingi. “Marilah berprilaku dengan benar dan bijak mengingat yang lain karena kita hidup bersama dalam mencapai keharmonisan sesama manusia dan mahkluk kita upayakan bersama. Memahami satu dan yang lain dengan aman, damai secara berkelanjutan” Pungkas DR Gatot. Penandatanganan MOU MLH dan LPM Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjadi penutup rangkaian seminar.